Tag Archives: hamasah yayasan karantina tahfizh

Defenisi dan Nama-nama Al-Quran

Defenisi dan Nama-nama Al-Quran

 Di antara kemurahan Allah kepada manusia bahwa Dia tidak saja memberikan sifat (fitrah) yang bersih yang dapat membimbing dan memberi petunjuk bagi mereka ke arah kebaikan, tetapi juga dari waktu ke waktu Dia mengutus seorang Rasul kepada manusia dengan membawa al kitab dari Allah dan menyuruh mereka beibadah hanya kepada Allah saja. Menyampaikan kabar gembira dan memberikan peringatan, agar yang demikian menjadi bukti bagi manusia.

 

`Selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana`.( An-Nisa`: 165 )

Perkembangan dan kemajuan berpikir manusia senantiasa disertai dengan wahyu yang sesuai dan dapat memecahkan problem-problem yang dihadapi oleh kaum setiap Rasul saat itu. Sampai perkembangan itu mencapai kematangannya. Allah menghendaki agar risalah Muhammad muncul dipermukaan bumi ini. Maka diutuslah beliau di saat manusia sedang mengalami kekosongan para Rasul, untuk menyempurnakan ` bangunan` saudara-saudara pendahulunya ( para rasul ) dengan syriatnya yang universal dan abadi serta dengan kitab yang diturunkan kepadanya, yaitu al-quranl karim.

 

`Perumpamaan aku dengan nabi sebelum aku adalah bagaikan orang yang membangun sebuah rumah, dibuat dengan baik dan diperindahkanya rumah itu, kecuali letak sebuah bata disudutnya. Maka orang-orang pun mengelilingi rumah itu, mereka mengaguminya dan berkata: seandainya bukan karena satu batu bata ini, tentulah rumah itu sudah sempurna. Maka akulah batu bata itu, dan akulah penutup para nabi.` .

 

Qur`an adalah risalah Allah kepada manusia semuanya, banyak nash yang menunjukkan hal itu, baik di dalam qur`an maupun di dalam sunnah.

 

`Katakanlah: `Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua`,( Al A`raf :158 ).

 

`Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam , Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam`,( Al-Furqan : 1 )

 

`Setiap nabi diutus kepada kaumnya secara khusus, sedang aku diutus untuk segenap manusia,` .

 

Sesudah Muhammad saw. Tidak akan ada lagi kerasulan lain.

 

`Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu , tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi`.(Al Ahzab : 40 ).

 

Maka tidaklah aneh apabila quran dapat memenuhi semua tuntutan kemanusiaam berdasarkan asas-asas pertama konsep agama samawi.

 

`Dia telah mensyari`atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu : `Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya`.( Asyuraa: 13 ).

 

Rasulullah SAW juga telah menantang orang-orang arab dengan quran, padahal quran diturunkan dengan bahasa mereka dan mereka pun ahli dalam bahasa itu dan retorikanya. Namun ternyata mereka tidak mampu membuat apapun seperti quran, atau membuat sepuluh surah saja, bahkan satu surah pun sepertu quran. Maka terbuktilah kemukjizatan quran dan terbukti pula kerasulan Muhammad. Allah telah menjaga kerasulannya da menjaga pula penyampaiannya yang beruntun. Tentang jibril yang membawa quran itu diantaranya dilukiskan :

 

`Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin`,( Asyuraa : 193 ).

 

Dan diantara sifat quran dan sifat orang yang diturunkan kepadanya quran itu adalah :

 

`Sesungguhnya Al Qur`aan itu benar-benar firman utusan yang mulia , yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai `Arsy, yang dita`ati di sana lagi dipercaya. Dan temanmu itu bukanlah sekali-kali orang yang gila. Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang. Dan dia bukanlah orang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib`.(at-taqwir : 19-24 ).

 

`Sesungguhnya Al-Quraan ini adalah bacaan yang sangat mulia, Sesungguhnya Al-Quraan ini adalah bacaan yang sangat mulia, tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan`.(al waqiah :77-79 ).

 

Keistimewaan yang demikian ini tidak dimiliki oleh kitab-kitab yang terdahulu, karena kitab-kitab itu diperuntukkan bagi satu waktu tertentu, maka benarlah Allah dengan firman-Nya:

 

`Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur`an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya`.(al Hijr : 9 )

 

Risalah quran disamping ditujukan kepada manusia juga ditujukan kepada jin.

 

`Dan ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Qur`an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan lalu mereka berkata: `Diamlah kamu `. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya memberi peringatan. Mereka berkata: `Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih`.( al-Ahqaf : 29-31 ).

 

Dengan keistimewaan itu Quran dengan memecahkan problem-problem kemanusiaan diberbagai segi kehidupan, baik rohani, jasmani sosial, ekonomi maupun politik dengan pemecahan yang bijaksana, karena ia diturunkan oleh yang Maha Bijaksana dan maha terpuji. Pada setiap problem itu Quran meletakkan sentuhan yang mujarab dengan dasar-dasar yang umum yang dapat dijadikan landasan untuk langkah-langkah manusia, dan yang sesuai pula buat setiap zaman. Dengan demikian Quran selalu memperoleh kelayakannya disetiap waktu dan tempat, karena Islam adalah agama yang abadi. Alangkah menariknya apa yang dikatakan oleh seorang juru dakwah abad ke 14 ini:

 

`Islam adalah suatu sitem yang lengkap, ia siap mengatasi setiap segala gejala kehidupan, ia adalah negara dan tanah air, atau pemerintah dan bangsa, ia adalah moral dan potensi atau rahmat dan keadilan. Ia adalah pengetahuan dan undang-undang atau ilmu dan keputusan. Ia adalah materi dan kekayaan, atau pendpatan dan kesejahteraan. Ia adalah jihad dan dakwah atau tentara dan ide. Begitu pula ia adalah aqidah yang benar dan ibadah yang sah.`

 

Manusia yang kini tersiksa hati nuraninya dan ahlaknya sudah rusak, tidak mempunyai pelindung lagi dari kejatuhannya kejurang kehinaan selain dari pada Quran. `Allah berfirman: `Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta`.( Taha : 123-124 ).

 

Kaum muslimin sendirilah yang membangun obor ditengah-tengah sistem-sistem dan prinsip-prinsip lain. Mereka harus menjauhkan diri dari segala kegemerlapan yang palsu. Mereka harus membimbing manusia yang kebingungan dengan Quran sehingga terbimbing kepantai keselamatan. Seperti halnya kaum muslimin dahulu mempunyai negara dengan mempunyai Quran, maka tidak boleh tidak pada masa kini pun mereka harus memiliki negara dengan Quran juga.

 

Definisi Quran

 

Qara`a mempunyai arti mengumpulkan dan menghimpun, dan qira`ah berarti menghimpun huruf-huruf dan kata-kata satu dengan yang lain dalam suatu ucapan yang tersusun rapih. Qur`an pada mulanya seperti qira`ah , yaitu masdar (infinitif) dari kata qara` qira`atan, qur`anan. Allah berfirman:

 

`Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya dan membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu`. (Al;-Qiyamah :17-18).

 

Qur`anah berarti qiraatun (bacaannya/cara membacanya). Jadi kata itu adalah masdar menurut wazan (tashrif, konjugasi)`fu`lan` dengan vokal `u` seperti `gufran` dan `syukran`.Kita dapat mengatakan qara`tuhu , qur`an, qira`atan wa qur`anan, artinya sama saja.Di sini maqru` (apa yang dibaca) diberi nama Qur`an (bacaan); yakni penamaan maf`ul dengan masdar.

 

Qur`an dikhususkan nama bagi kitab yang diturunkan kepada Muhammad s.a.w, sehingga Qur`an menjadi nama khas kitab itu, sebagai nama diri. Dan secara gabungan nama itu dipakai nama qur`an secara keseluruhan, begitu juga untuk penamaan ayat-ayatnya. Maka jika kita mendengar orang yang membaca ayat al-Qur`an, kita boleh mengatakan bahwa ia sedang membaca Qur`an.

 

`Dan apabila dibacakan Al Qur`an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat `. (al-Araf :204)

 

Sebagian ulama menyebutkan bahwa penamaan kitab ini dengan nama qur`an di antara nama-nama kitab Allah itu karena kitab ini mencakup inti dari kitab-kitab-Nya, bahkan mencakup inti dari semua ilmu.

 

Akan hari Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri` (an-Nahl:89).

 

Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab`(al-An`am : 38 ).

 

Sebagian ulama berpendapat bahwa kata Quran itu pada mulanya tidak berhamzah sebagai kata jadian, mungkin ia dijadikan sebagai suatu nama bagi kalam yang diturunkan kepada Nabi saw., dan bukanya kata jadian dari Qara`a atau mungkin juga karena ia berasal dari kata qarana asy-sya`ia bisy-syai`i yang berarti memperhubungkan sesuatu dengan yang lain, atau juga berasal dari kata qaraa`in ( saling berpasangan ) karena ayat-ayatnya satu dengan yang lain saling menyerupai. Dengan demiian maka huruf Nun itu asli. Namun pendapat ini masih diragukan. Yang benar ialah pendapat yang pertama.

 

Qur`an memang sukar diberi batasan dengan definisi-definisi logika yang mengelompokkan segala jenis, bagian-bagaian serta ketentuan-ketentuannya secara khusus, mempunyai genus, diferensia, dan propium, sehingga definisi qur`an mempunyai batasan yang benar-benar konkrit. Definisi untuk Qur`an yang konkrit ialah menghadirkannya dalam fikiran atau dalam realita seperti misalnya kita menunjuk sebagai Quran kepada yang tertulis didalam mushaf atau terbaca dengan lisan. Untuk itu kita katakan Quran adalah: Apa yang ada diantara dua jilid buku, atau kita katakan juga; Quran adalah bismillahirrahmanirrahim alhamdulillahirabbil alamin��sampai dengan minal jinnati wannas.

 

Para ulama menyebutkan definisi Quran yang mendekati makananya dan membedakannya dari yang lain dengan menyebutkan bahwa: `Quran adalah kalam atau firman Allah yang diturunkan kepada Muhamad saw. Yang pembacanya merupakan suatu ibadah`. Dalam deinisi `kalam` merupakan kelompok jenis yang meliputi segal kalam. Dan dengan menghubungkannya dengan Allah ( kalamullah ) berarti tidak semua masuk dalam kalam manusia, jin dan malaikat.

 

Dan dengan kata-kata `yang diturunkan` maka tidak termasuk kalam Allah yang sudah khusus menjadi milik-Nya.

 

`Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu `.(al-Kahfi: 109).

 

`Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut , ditambahkan kepadanya tujuh laut sesudah nya, niscaya tidak akan habis-habisnya kalimat Allah . Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana`.( Luqman: 27 ).

 

Dan membatasi apa yag diturunkan itu hanya `kepada Muhammad saw` Tidak termasuk yang diturunkan kepada nabi-nabi sebelumnya seperti taurat, injil dan yang lain.

 

Sedangkan `yang pembacanya merupakan suatu ibadah` mengecualikan hadis ahad dan hadis-hadis qudsi bila kita berpendapat bahwa yang diturunkan dari Allah itu kata-katanya -sebab kata-kata `pembacanya sebagai ibadah` artinya perintah untuk membecanya di dalam shalat dan lainnya sutau ibadah. Sedangkan qiraat ahad dan hadis-hadis qudsi tidak demikian halnya.

 

 

Nama dan Sifatnya

 

Allah menamakan Quran dengan beberapa nama, diantaranya:

 

  1. Qur`an

 

`Al Qur`an ini memberikan petunjuk kepada yang lebih lurus`.( al-Israa:9)

 

  1. Kitab

 

`Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu`.(al-Anbiyaa: 10)

 

  1. Furqan

 

Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam`,(al-Furqan: 1)

 

  1. Zikr

 

`Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur`an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya`.( al-Hijr :9)

 

  1. Tanzil

 

`Dan sesungguhnya Al Qur`an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam`,(as-Syuaraa:192 ).

 

Quran dan alkitab lebih populer dari nama-nama yang lain. Dalam hal ini Dr. Muhammada Daraz berkata: ` ia dinamakan Quran karena ia `dibaca` dengan lisan, dan dinamakan al- kitab karena ia `ditulis` dengan pena. Kedua kata ini menunjukkan makna yang sesuai dengan kenyataannya`.

 

Penamaan Quran dengan kedua nama ini memberikan isyarat bahwa selayaknyalah ia dipelihara dalam bentuk hafalan dan tulisan. Dengan demikian, apa bila diantara salah satunya ada yang melenceng, maka yang lain akan meluruskannya, kita tidak dapat menyandarkan hanya dengan haflan seseorang sebelum hafalannya sesuai dengan tulisan yang telah disepakati oleh para sahabat, yang dinukilkan kepada kita dari generasi kegenerasi menurut keadaan sewaktu dibuatnya pertama kali. Dan kita pun tidak dapat menyandarkan hanya kepada tulisan penulis sebelum tulisan itu sesuai dengan hafalan tersebut berdasarkan isnad yang sahih dn mutawatir.

 

Dengan penjagaan yang ganda ini oleh Allah telah ditanamkan kedalam jiwa umat Muhammad untuk mengikuti langkah Nabi-Nya. Maka Quran tetap terjaga dalam benteng yang kokoh. Hal itu tidak lain untuk mewujudkan janji Allah yang menjamin terpeliharanya Quran seperti di firmankan-Nya :

 

`Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur`an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya`.(al-Hijr :9 ).

 

Dengan demikian Quran tidak mengalami penyimpangan, perubahan dan keterputusan sanad seperti terjadi pada kitab-kitab terdahulu.

 

Penjagaan ganda ini diantaranya menjelaskan bahwa kitab-kitab samawi lainnya diturunkan hanya untuk waktu itu, sedang Quran diturunkan untuk membetulkan dan menguji kitab-kitab yang sebelumnya. Karena itu Quran mencakup hakikat yang ada didalam kitab-kitab terdahulu dan menambahnya dengan tambahan yang dikehendaki Allah. Quran menjalankan fungsi-fungsi kitab-kitab sebelumnya, tetapi kitab-kitab itu tidak dapat menempati posisinya. Allah telah menakdirkan untuk menjadikannya sebagai bukti sampai hari kiamat. Dan apa bila Allah mengehndaki suatu perkara, maka Dia akan mempermudah jalannya ke arah itu. Karena Maha Bijaksana dan Maha Tahu. Inilah alasan yang paling kuat.

 

Allah telah melukiskan Quran dengan beberapa sifat, diantaranya ;

 

  1. Nur (cahaya ) :

 

`Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu. dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang`.(an-nisaa : 174 )

 

  1. Huda ( petunjuk ), Syifa` ( obat ), Rahmah ( rahmat ),dan Mauizah ( nasehat ) :

 

`Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman`.( Yunus : 57 ).

 

  1. Mubin ( yang menerangkan ) :

 

`Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan`.( al-Maidah :15 ).

 

  1. Mubarak ( yang diberkati ) :

 

`Dan ini adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya`.(al- An`am ;92 ).

 

  1. Busyra ( kabar gembira ) :

 

`Katakanlah: `Yang membenarkan apa yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman`.(al-Baqarah :97 ).

 

  1. `Aziz ( yang mulia ) :

 

`Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al Quraan ketika Al Quraan itu datang kepada mereka, , dan sesungguhnya Al Quraan itu adalah kitab yang mulia`.( Fushilat : 41 ).

 

  1. Majid ( yang dihormati ) :

 

`Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Qur`an yang mulia`,( al-Buruuj ; 21 ).

 

  1. Basyr ( pembawa kabar gembira ) :

 

`Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling, tidak mau mendengarkan`.( Fushilat ; 3-4 )

Klik n Share https://www.30harihafalquran.com

Yayasan Quran Hamasah

MATA-MATA DAN DAJJAL YANG PASTI AKAN DATANG

MATA-MATA DAN DAJJAL YANG PASTI AKAN DATANG

Dari Amir bin Sarahil Asy-Syab’bi, bahwasanya dia bertanya kepada Fathimah bin Qais, adik Adh-Dhahak bin Qais. Fatimah adalah termasuk salah seorang wanita yang turut serta berhijrah pada periode awal. Amir berkata, ”Sampaikanlah kepadaku suatu hadits yang engkau dengar langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak kamu nisbatkan kepada orang lain!”

 

Lalu Fathimah berkata, “aku telah menikahi Al-Mughirah. Pada saat itu, ia merupakan pemuda Quraisy yang terbaik, kemudian ia tertimpa musibah (terbunuh) pada awal jihad bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tatkala aku menjanda, Abdurrahman bin Auf meminang aku melalui sekelompok sahabat Nabi. Sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melamar aku untuk budaknya, Usamah bin Zaid. Ketika itu aku pernah diberitahu bahwa Rasulullah berbsabda, ‘Barangsiapa mencintai aku, maka hendaklah ia mencintai Usamah.’

 

Maka, tatkala Rasulullah mengajak aku berbicara, aku menjawab, ‘Terserah engkau, nikahkanlah aku kepada siapa saja yang engkau kehendaki.’

 

Kemudian beliau memerintahkan agar aku pindah ke rumah Ummu Syarik, ia adalah wanita Anshar yang kaya raya. Sumbangsihnya begitu besar dalam perjuangan di jalan Allah. Para tamu selalu singgah di rumahnya.

Lalu aku menjawab, ‘Akan aku lakukan.’

 

Tiba-tiba beliau berkata, ‘Jangan kamu lakukan itu karena Ummu Syarik mempunyai banyak tamu, sementara aku tidak suka jika kain kerudungmu terlepas dan betismu tersingkap, kemudian orang-orang itu melihat hal-hal yang tidak kamu sukai. Akan tetapi, pindahlah ke rumah sepupumu, Abdullah bin Amr bin Ummi Maktum.’ Dia adalah pria Bani Fihr, yakni Fihr Quraisy. Dia lahir dari qabilah yang sama dengan Fathimah.

 

Kemudian aku pindah ke rumah sepupuku itu. Setelah masa iddahku selesai, aku mendengar seorang muazin berseru. Muazin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu menyeru untuk shalat jamaah. Lalu aku keluar menuju mesjid, kemudian shalat bersama Rasulullah. Pada waktu itu, aku berada pada shaf wanita paling depan.

 

Tatkala Rasulullah telah menyelesaikan shalatnya, beliau duduk di atas mimbar sambil tertawa, kemudian bersabda, ‘Hendaknya masing-masing orang tetap duduk di tempat shalatnya.’ Beliau melanjutkan, ‘Apakah kalian tahu kenapa aku mengumpulkan kalian?’ Mereka menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.’

 

Beliau bersabda, ‘Demi Allah, aku tidak mengumpulkan kalian untuk memberikan semangat, dan bukan mengintimidasi. Aku mengumpulkan kalian karena Tamim Ad-Dari dulunya seorang Nasrani, kemudian ia datang berbai’at dan masuk Islam. Ia menceritakan kepadaku sebuah kisah yang sama seperti apa yang telah aku kisahkan kepada kalian tentang Dajjal.

 

Ia bercerita bahwa ia pernah mengarungi laut dengan kapan laut bersama 30 orang dari suku Lakham dan Judzam, kemudian mereka dipermainkan ombak selama sebulan di tengah laut, lalu mereka berlabuh di sebuah pulau di tengah laut hingga matahari akan terbenam.

 

Kemudian mereka duduk-duduk di perahu kapal dan masuk ke pulau itu. Lalu, sesuatu yang berambut lebat dan tebal menemui mereka. Mereka tidak mengetahui mana bagian depan dan mana belakangnya karena banyak rambutnya. Mereka bertanya, ‘Celaka, siapakah kamu?’ Ia menjawab, ‘Aku adalah Al-Jassasah (mata-mata).’ Mereka bertanya, ‘Apa itu Al-Jassasah?’ Ia menjawab, ‘Wahai kaum, pergilah ke pria yang berada di padepokan gua itu, ia ingin sekali mendengar kabar dari kalian.’

 

Tamim berkata, ‘Tatkala binatang tadi menyebutkan seorang pria kepada kami, kami pun takut kalau sekiranya pria itu setan. Kemudian kami bergegas pergi hingga memasuki gua itu. Ternyata di dalamnya ada seorang pria yang sangat besar. Kami belum pernah melihatnya, ia sedang di belenggu dengan kuat dan erat. Kedua tangannya terikat sampai lehernya, di antara kedua lututnya sampai kedua mata kakinya di belenggu dengan besi.

 

Lalu kami bertanya kepadanya, ‘Celaka, siapakah kamu?’ Dia menjawab, ‘Kalian telah mengetahui tentang aku, maka beritahukan siapakah kalian?’ Kami menjawab, ‘Kami adalah orang-orang dari bangsa Arab. Kami berlayar dengan menaiki sebuah kapal laut. Tiba-tiba kami dikejutkan oleh laut yang mengamuk, lalu kami dipermainkan ombak selama sebulan. Selanjutnya, kami mengungsi ke pulau kamu ini, lalu kami pun duduk di perahu kapan dan masuk pulau. Kemudian binatang berambut lebat dan tebal menemui kami, kami tidak tahu bagian mana depan dan mana belakangnya karena banyak rambutnya.

 

Lalu kami bertanya, ‘Celaka, siapa kamu ini?’ Ia menjawab, ‘Aku adalah Al-Jassasah,’ lalu kami bertanya, ‘Apakah Al-Jasssasah itu?’ Dia berkata, ‘Pergilah ke pria yang berada di gua itu karena ia ingin sekali mendengar kabar dari kalian.’ Lalu kami bergegas menuju anda, kami kaget setelah melihatnya dan merasa takut, siapa tahu itu adalah setan.’

 

Selanjutnya pria itu meminta, ‘Ceritakan kepadaku tentang pohon kurma Baisan!’ Kami balik bertanya, ‘Kabar mana yang ingin kamu ketahui?’ Ia menjawab, ‘Aku bertanya kepada kalian apakah pohon kurma tersebut sedang berbuah?’ Kami menjawab, ‘Ya’, Ia berkata, ‘Bukankah ia hampir tidak berbuah?’

 

Dia berkata, ‘Ceritakanlah kepadaku tentang danau Ath-Thabariyyah.’ Kami bertanya, ‘Kabar mana yang ingin kamu ketahui?’ Dia bertanya, ‘Apakah di dalamnya masih ada air?’ Mereka menjawab, ‘Airnya banyak.’ Dia berkata, ‘Bukankah airnya hampir kering?’

 

Pria itu meminta lagi, ‘Ceritakan kepadaku tentang mata air Zughar.’ Mereka menjawab, ‘Kabar mana yang ingin kamu ketahui?’ Dia bertanya, ‘Apakah di dalamnya masih ada air, dan apakah penduduk sekitarnya bercocok tanam dengan airnya itu?’ Kami menjawab, ‘Ya. Airnya banyak dan penduduk bercocok tanam dengan menggunakan airnya.’

 

Ia berkata, ‘Ceritakan kepadaku tentang Nabi yang ummi itu, apa yang telah dia lakukan?’ Mereka menjawab, ‘Nabi itu telah keluar dari Mekkah dan tinggal di Yatsrib (Madinah).’ Dia bertanya lagi, ‘Apakah orang Arab memeranginya?’ Kami menjawab, ‘Ya.’ Ia bertanya lagi, ‘Bagaimana ia memperlakukan mereka atau apa yang ia perbuat terhadap mereka?’ Kami pun menyampaikan bahwa nabi tersebut telah menundukkan orang-orang Arab yang mendatanginya dan mereka taat kepadanya.

 

Dia bertanya, ‘Apakah hal itu telah terjadi?’ Kami menjawab, ‘Ya.’ Ia berkata lagi, ‘Ingatlah bahwa sebaiknya mereka mematuhinya, dan aku memberitahukan kepada kalian tentang diriku, sesungguhnya aku adalah Al-Masih Ad-Dajjal, dan aku hampir diperbolehkan keluar (muncul). Aku akan muncul dan berjalan di muka bumi. Aku tidak membiarkan sebuah kampung kecuali aku menetap di dalamnya selama 40 malam, selain Mekkah dan Thaibah, karena keduanya diharamkan bagiku.

 

Setiap kali aku akan memasuki salah satunya, seorang malaikat akan menyambutku dengan pedang terhunus. Ia menghalangiku, dan pada tiap celah jalan-jalannya terdapat malaikat yang menjaganya.’”

 

Fathimah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sambil beliau menusukkan tongkatnya di mimbar, ‘Inilah Thaibah itu, inilah Thaibah itu, inilah Thaibah itu –-yakni Madinah—-. Ingatlah, bukankah aku telah menyampaikan haditsku ini? Para sahabat menjawab, ‘Ya.’

 

Bahwasanya kisah yang disampaikan Tamim telah mencengangkanku. Ceritanya persis dengan kisah yang aku ceritakan kepada kaian, juga tentang Madinah dan Mekkah. Ketahuilah, sesungguhnya Dajjal itu berada di Laut Syam atau Laut Yaman! Tidak, tetapi dari arah timur dan beliau mengisyaratkan tangannya ke arah timur.’

 

Aku hafal hadits ini dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

(HR. Muslim, no. 2942 dan Abu Daud, no. 4352)

Klik n Share https://www.30harihafalquran.com

Yayasan Quran Hamasah

Kisah – Kisah Neraka

Allah  Swt  berfirman dalam Al-Quran: Dan sesungguhnya Jahannam itu tempat yang dijanjikan  bagi mereka sekalian. Ia mempunyai tujuh pintu; tiap-tiap pintu    (telah   ditetapkan)   untuk   golongan   tertentu   dari   mereka (pengikut-pengikut iblis). (QS. Al-Hur, 15: 43:44)

 

Tentang  pintu-pintu  neraka,  Rasulullah SAW pernah bertanya kepada Jibril as:  Apakah keadaan  pintu-pintu neraka itu seperti pintu rumahku? Jawab Jibril: Tidak, tetapi pintu neraka terbuka di bawah yang lain.

 

Dalam sebuah riwayat, Wahab bin Munabbih berkata, Jarak satu pintu ke pintu lainnya  boleh ditempuh dengan perjalanan tujuh puluh tahun. Setiap pintunya sangat panas dari yang lain dengan perbandingan tujuh puluh kali.

 

(MUKHTASHAR TADZKIRATUL QURTHUBY)

 

 

Rasulullah Saw, dalam riwayat lain, pernah berdialog dengan Malaikat Jibril as,

 

Rasulullah: Siapakah orang-orang yang ditempatkan di pintu-pintu neraka itu?

Jibril        : Pintu pertama (paling bawah) namanya Hawiyah, ditempati orang-orang munafik  dan  kafir.  Pintu  kedua  namanya  Jahim,  ditempati  orang-orang musyrik. Pintu   ketiga  namanya  Saqar,  ditempati  orang-orang  Shabiin (orang-orang  yang  menukar agama,  para  penyembah  bintang, yang mengaku beragama  Nabi Nuh). Pintu keempat namanya Ladhaa, ditempati Iblis dan para pengikutnya  serta orang-orang Majusi (penyembah api). Pintu kelima namanya Huthamah,  ditempat  oleh orang-orang  Yahudi. Pintu  keenam  namanya  Sair, ditempati  orang-orang  Nasrani.  Pintu  ketujuh ditempati orang-orang yang berbuat  dosa  besar  dari  golongan  umatmu  yang sampai mati mereka belum bertaubat.

 

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Jibril tidak menerangkan penghuni pintu ketujuh sehingga  Rasulullah  Saw  bertanya:  Wahai Jibril mengapa engkau tidak memberitahu  kepadaku  penghuni pintu ketujuh? Jibril berkata: Wahai Muhammad,  tak  usahlah  engkau tanyakan hal itu kepadaku. Kata Nabi Saw: Baiklah  kalau  begitu. Maka Jibril berkata: Wahai Muhammad, iaitu para pembuat  dosa-dosa  besar  dari  ummatmu.  Mereka  mati sebelum  bertobat. Seketika itu Nabi SAW pengsan.

Dan  setelah sadar beliau berkata: Wahai Jibril, besar sekali musibahku dan aku  sangat takut.  Apakah  salah seorang dari ummatku akan masuk neraka?

Jibril  menjawab: Ya, ummatmu yang berbuat dosa-dosa besar. Maka nabi Saw menangis lalu Jibril  menangis  pula kerana melihat Nabi Saw menangis. (Tanbihul Ghafilin-Al-Faqih Abu Laits Samarqandi, hal 59)

 

Pintu-pintu  neraka  akan  dibuka apabila golongan yang akan memasuki telah dihadirkan, seperti  firman  Allah: Dan orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam  berombong-rombongan,  sehingga  apabila  mereka  sampai keneraka, dibukakan  pintu-pintunya  dan penunggu-penunggunya berkata kepada mereka:

 

Bukankah  telah  datang  kepada  kamu  rasul-rasul  dari  jenis  kamu yang membacakan kepada  kamu  ayat-ayat  Tuhan  kamu  dan mengancam kamu dengan pertemuan  hari ini? Mereka menjawab: Ya ada! Tetapi telah pantas hukuman azab atas orang-orang kafir. (QS, As-Zumar, 39:72)

 

Lalu   dalam   keadaan  rela  atau  terpaksa  mereka  akan  diherdik  untuk memasukinya,

 

Dikatakannya: Masukilah pintu-pintu Jahannam itu, kamu kekal di dalamnya. Maka  alangkah buruknya tempat kembali bagi orang-orang yang sombong itu. (QS. Az-Zumar, 39:72)

 

 

Dalam sebuah hadits yang panjang, Abu Hurairah ra menggambarkan neraka pada kalimat terakhir hadits itu,

 

Abu  Hurairah berkata: Demi Dzat yang jiwa Abu Hurairah di tanganNya, bahwa dasar Jahannam itu dalamnya adalah tujuh puluh tahun (perjalanan).

(HR. Muslim dan Hudzaifah dan Abu Hurairah ra)

 

Dalam hadits lain, yaitu:

Hadits  Ibnu  Abbas  ra mengatakan: Pada suatu hari Rasulullah sedang duduk dengan  para sahabatnya.  Tiba-tiba  dia mendengar suatu suara. Ketika itu Nabi  saw  bertanya:  Tahukah kamu suara apakah itu? Jawab mereka: Allah dan  RasulNya  yang  lebih  tahu.  Kata  Nabi Saw:  Itu adalah batu yang dilemparkan  ke  dalam  neraka  sejak  tujuh puluh tahun yang lalu dan baru sekarang sampai ke dasar neraka itu. (HR. Muslim)

 

Tidaklah  berlebihan  bila  dalam  sebuah  dialognya dengan Allah, Jahannam mengatakan   masih   sanggup  memuat  calon-calon  penghuninya  berapa  pun jumlahnya, seperti firman Allah, Ingatlah  hari  yang  Kami  akan bertanya kepada Jahannam: Sudahkah engkau penuh?  dan  ia (Jahannam) akan menjawab: Apakah ada tambahan? (QS, Qaf, 50:30)

 

Tentang  panasnya  api  neraka,  Rasulullah  Saw  bersabda, Api kalian yang dinyalakan  di dunia  ini  adalah  sebagian  dari  tujuhpuluh  bagian bila dibandingkan  dengan  panasnya api  Jahannam. Para sahabat bertanya: Demi Allah,  yang  ini  saja  yang  di  dunia  kiranya sudah  mencukupi  (untuk menghancurkan manusia) ya Rasulullah?

 

Sahut  beliau:  Sesungguhnya  panasnya  itu  masih  lebih  sembilan  puluh sembilan  bagian  lagi  (dari  api  dunia  ini) yang masing-masing panasnya setiap bagian sedemikian itu. (HR. Bukhari-Muslim dari Abu Hurairah ra)

 

Dalam  hadits  yang lain  dari  Ibnu  Masud ra, ia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda: Panas api  yang  kamu nyalakan di dunia ini (termasuk matahari) hanyalah  sepertujuh puluh dari panasnya  api  neraka  di akhirat. Kalau sebagian  kecil  (api  neraka) jatuh ke dunia, niscaya mendidihlah air laut karena panasnya. (HR. Muslim) (Dari Kehidupan Insan di Alam Baqa-Halimuddin SH, hal 8)

 

Dalam satu riwayat disebukan bahwa Allah Taala mengutus malaikat Jibril as kepada malaikat  Malik  supaya  mengambil  sebagian  dari api neraka untuk keperluan Adam memasak makanan.

 

Malaikat Malik berkata: Wahai Jibril, berapa api yang engkau kehendaki dari neraka?

 

Jibril : Kira-kira sebutir kurma.

 

Malik  :  Wahai  Jibril,  sekiranya aku berikan kepadamu api neraka sebesar sebutir  kurma, niscaya  hancurlah  tujuh  langit  dan  tujuh  bumi karena panasnya.

 

Jibril : Bagaimana kalau hanya separuhnya saja?

 

Malik  : Andai apa yang engkau kehendaki itu aku berikan, nescaya tidak akan  ada  air di langit  walau  setitis pun dan tak akan tumbuh satu pun tumbuh-tumbuhan di bumi.

 

(Kemudian Jibril menghadap Allah dan berkata)

 

Jibril : Ya Tuhanku, seberapa aku harus mengambil api dari neraka?

 

Allah : Ambillah sebesar debu. (Durratun Nasihin III, hal 112)

 

Maka Jibril mengambil api sebesar debu, lalu ia menyelamkannya dalam sungai sampai  70 (tujuh puluh) kali. Kemudian ia memberikannya kepada Adam as dan Jibril  meletakkannya di atas gunung yang menjulang tinggi, gunung musnah. Akhirnya   api   itu  dikembalikan lagi pada tempatnya. Adapun  asapnya tertinggal pada batu-batu dan besi-besi sampai Sekarang.

 

Dan dapatlah dibayangkan betapa panasnya kalau percikan-percikan api neraka itu seperti yang gambarkan oleh Allah dalam Al-Quran: Sesungguhnya neraka itu  melontarkan  percikan-percikan  api yang besar. (QS, Al-Mursalat, 77:32)

 

Malaikat Jibril AS pernah memberi gambaran kepada Nabi Muhammad Saw tentang neraka. Begini:  Andaikata  neraka itu dibuka selubang jarum di arah timur maka terbakarlah penduduk bagian barat kerana sangat panasnya.

 

Dan  andaikata  pakaian  ahli neraka digantungkan diantara langit dan bumi, maka  matilah mereka karena sangat panasnya. Dan andaikan satu hasta rantai yang telah disebutkan Allah dalam kitab-Nya itu diletakkan pada gunung maka hancurlah  gunung  itu  hingga  menembus tujuh bumi. Dan andaikata seorang lelaki dari ahli neraka yang disiksa berada di arah barat maka sungguh akan hanguslah orang yang berada di arah timur karena sangat hebatnya siksaan.

 

Sebelum  para  ahli neraka dihadirkan, Allah mengadakan persiapan-persiapan secukupnya   untuk  membuat  kejutan-kejutan. Bersabda Rasulullah Saw: Malaikat Jibril telah datang kepadaku, aku berkata kepadanya: Wahai Jibril terangkanlah kepadaku sifat-sifat neraka Jahannam. Ia  (Jibril)  berkata:  Sungguh  Allah Taala telah menciptakan neraka dan menyalakannya selama seribu tahun sehingga menjadi berwarna merah, kemudian menyalakannya lagi selama seribu tahun sehingga mejadi berwarna putih, lalu menyalakannya  lagi  selama  seribu  tahun  sehingga berwarna hitam seperti malam yang  gelap, nyalanya tidak pernah berhenti dan baranya tidak pernah bisa padam.

 

Allah  melengkapi  pemandangan  di  neraka  dengan sesuatu yang tidak hanya boleh  dilihat tetapi  wajib  didaki  oleh  penghuninya.  Hadits  Abi Said al-khudry  ra,  katanya: Rasulullah Saw pernah membicarakan tentang firman Tuhan   yang   berbunyi: Aku akan Membebaninya dengan  pendakian  yang memenatkan.  Iaitu  gunung  di  dalam  neraka yang wajib didaki oleh orang kafir selama tujuh puluh tahun. Demikianlah ketinggian gunung itu. (HR. Tirmidzi)

 

Dalam  hadits lain dari Anas ra bahwa Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya Wailun  itu suatu  lembah di dalamnya neraka Jahannam. Dalamnya lembah itu sejauh  empat  puluh perjalanan  bagi orang kafir baru sampai ke dasarnya. Kata Abi Said al Khudry ra: Bahwa Wailun itu adalah lembah yang terletak diantara  dua  buah  gunung  di dalam neraka. Empat puluh tahun lamanya orang kafir baru sampai ke dasarnya. (HR. Muslim)

 

 

 

Rasulullah Saw menambahkan: Di dalamnya terdapat sebuah gunung yang bernama Raqabah yang dilalui orang-orang kafir. Gunung ini begitu panasnya sehingga bila tangan diletakkan di atasnya  maka tangan itu akan hancur dan bila diangkat maka kembali seperti semula. (HR. Tirmidzi)

 

Tidak  ada  celah  sedikitpun di dalamnya neraka yang tidak diramaikan oleh bara  api. Nabi Saw  bersabda: Sesungguhnya tanah neraka itu terdiri dari timah  hitam,  pagarnya  dari tembaga, atapnya dari belerang, kayu bakarnya dari  manusia dan batu. Bila api neraka itu dinyalakan, maka semua yang ada di sana menyala pula menjadi api. (AL-Hadits)

 

Menurut  keterangan  dari  Ibnu  Masud ra, ia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda:  Pada hari  kiamat akan dikeluarkan neraka Jahannam dengan tujuh puluh  ribu  kendali,  tiap kendali ditarik oleh tujuh puluh ribu malaikat. (HR. Muslim)

 

Keterangan  selanjutnya  adalah  dari  Ibnu  Abbas  ra.  Ia berkata: Neraka Jahannam  pada  hari  kiamat  nanti  akan  didatangkan dari bawah bumi yang ketujuh  dan  di  sekelilingnya dikepung tujuh puluh ribu barisan malaikat. Setiap  barisnya lebih banyak daripada jumlah dua golongan jin dan manusia. Mereka menarik Jahannam itu dengan tali-talinya.

 

Jahannam  mempunyai  empat  kaki.  Jarak  antara dua kaki sejauh perjalanan seribu tahun. Jahannam  memiliki  tiga  puluh  ribu kepala, setiap kepala mempunya  tiga  puluh  ribu mulut,  setiap mulut mempunyai tiga puluh ribu geraham,  masing-masing  geraham  tiga puluh ribu kali besarnya dari gunung Uhud, setiap mulut juga memiliki dua bibir selebar dunia. Pada setiap bibir terdapat rantai dari besi dan pada setiap rantai mempunyai tujuh puluh ribu kolong,  setiap kolong dipegang para malaikat yang tak terhitung jumlahnya.

Kemudian Jahannam digiring ke sebelah kiri Arsy. (Darratun Nasihin III, hal 15)

 

Dan  untuk  menambah  kekejaman neraka  maka  Allah  menciptakan  Huraisy. Siapakah Huraisy itu? Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra katanya, Rasulullah Saw  bersabda: Kelak di hari kiamat akan keluar suatu (makhluk) dari neraka Jahannam namanya Huraisy yang dilahirkan dari yang panjangnya sejauh antara langit dan bumi sedang besarnya dari timur sampai barat.

 

Lalu  Jibril  as  bertanya: Hai Huraisy mau kemanakah engkau dan siapa yang engkau cari?

 

Dikisahkan dalam sebuah kitab bahawa apabila tiba hari kiamat nanti maka akan keluar seekor binatang dari neraka Jahanam yang digelar Huraisy, yang mana panjangnya ialah jarak antara langit dan bumi dan lebarnya pula dari timur hingga ke barat. Huraisy adalah kelahiran anak Kala Jengking. Apabila ia keluar maka malaikat.

 

Lalu berkata Huraisy : “Aku mencari lima jenis orang .”

  1. Orang yang tidak mengerjakan solat.
  2. Orang yang tidak mahu mengeluarkan zakat.
  3. Orang yang mendurhakai kedua orang tuanya.
  4. Orang yang suka minum arak.
  5. Orang yang sangat suka bercakap-cakap dalam masjid hal dunia.

(Durratun Nasihin I, hal. 129)

 

Disamping  Huraisy  yang  besar  itu  Allah  juga  menghiasi  neraka dengan binatang-binatang  kecil  yang  berukuran  kecil  menurut  dimensi  neraka. Diriwayatkan  dari  Jabir bin Abdullah ra dari Nabi Saw, beliau bersabda:

Sungguh  di  neraka  terdapat  beberapa   dan kalajengking sebesar leher unta.  Maka mereka  akan  memagut  serta menyengat salah seorang dari kamu dengan  pagutan  dan sengatan  yang  dapat dirasakan panasnya selama empat pulun musim gugur. (Daqaa-Ioqul Akhbaari)

(Dari Durratun Nasihin III, hal 243-Usman al-Khaibawi)

 

Untuk  melengkapi penderitaan orang-orang kafir, Allah juga melipatgandakan dimensi tubuh mereka ratusan ribu kali. Dari Imam Muslim dari Abu Hurairah ra dia berkata bahwa Rasulullah  Saw  bersabda: Geraham orang kafir itu seperti gunung Uhud dan tebal kulitnya sejauh tiga hari perjalanan.

 

Keterangan:  Dimensi  mereka  diperbesar  ratusan  ribu  kali  lipat  untuk memperluas permukaan  kulit. Hal ini dimaksudkan agar segala macam siksaan terutama siksa bakaran dapat benar-benar dirasakan.

Klik N Share https://www.30harihafalquran.com

Yayasan Quran Hamasah