Selesai 30 Juz.. Ibu Berusia 47 Tahun

IBU DJUNAIDAH

Khotmil Qur’an 
Peserta Veteran Putri (46 Tahun)

Siang itu, disaksikan oleh suaminya tercinta Bapak Ahmad Soleh, acara khotmil Quran yang sangat fenomenal Ibu Siti Djuaidah telah menorehkan cerita baru di Tanjungpandan Belitung. Rumah yang dihuni oleh enam pejuang Quran para Veteran putri, kini bersinar bak menerangi seluruh ruangan setiap sudutnya. Yah itulah Meirobiland, rumah yang tak pernah ramai, sulit menangkap sinyal, dan tak pernah dilewati oleh siapaun kecuali para pejuang Quran veteran.
Ibu Siti Djunaidah atau yang lebih akrab dipanggil Ibu Idah, adalah peserta berusia 46 tahun yang datang terlambat ke acara karantina. Namun semangatnya yang terus terjaga, membuat Ibu dari lima anak ini mampu melewati ujian di setiap juz nya tanpa lelah dan tanpa henti. Dengan ditutup oleh surat Al Mulk tuntas sudah Ibu Idah menghafal dan menyetorkan hafalannya dengan predikat Jayyid Ziddan.

Selamat Bu Idah, Anda sekarang sudah mengemban amanah baru menjaga hafalan yang telah anda tuntaskan. Menjadi hamilul Quran yang Insya Allah diRidhoiNya. Satu hal pesan yang tak pernah kami lupakan di hamasah ini, bahwa sejak dikarantina, ia berperinsip “hanya dengan mengutamakan Allah dan Rasulnya sajalah yang akan memudahkan hafalan” tentu dengan meninggalkan secara totalitas unsur keduniawian. Sungguh besar kekuasaan Allah. Ibu Idah, engkau adalah inspirasi bagi semua ibu-ibu yang lainnya di dunia ini. Semoga Allah selalu memberikan keberkahan dan keselamatan bagi keluargamau.


Ahmad Soleh
Kisah haru seorang Ayah dari lima anak yang hafizh Quran di Bali.
(Bali 31 Desember 2014)


Suasana Pantai
Baluk Rening, Pulau Dewata Bali biasanya sunyi sepi di setiap malamnya. Namun
malam itu terasa berbeda. Suara gemuruh ombak menyeruak seolah-olah berteriak
menyuarakan lantunan takbir. Di sanalah para laskar hamasah berkumpul dan nampak
seorang bapak paruh baya ayah dari lima anak duduk dihadapan muhafizhnya dengan
memegang Al Qur’an kecilnya yang sudah lusuh. Bapak lima anak itu bernamaAhmad
Sholeh, usia 47 tahun asal surabaya, berhasil menyelesaikan hafalan dan setoran
Al Qur’an tiga puluhjuz di hari ke tiga puluh. Ayah dari lima anak ini masih
tidak percaya saat membacakan tiga ayat terakhir surat Al Hasyr di setoran
terakhirnya. Teringat akan kisah perjuangan anggota group veteran ini yang
mengalami kesulitan menghafal di sepuluh hari pertama. Hampir-hampir kandas
diakhir program karantina 30 hari hafal Quran Hamasah. Namun ikhtiar yang
sungguh-sungguh membuat pria kelahiran surabaya ini berhasil menghafal dan
menyetorkan dua juz dalam satu hari  pada
hari ke tiga puluh.
Saat ditemui di
Surabaya pada tanggal 28 Maret 2015, bapak lima anak ini terus murojaah dan
terus menerus memperbaiki bacaannya. Tekadnya yang sungguh-sungguh membuat
beliau tak lepas dari Al Qur’an. Baginya murojaah adalah sebuah kebutuhan.
Seperti kita tak bisa lepas dari nasi saat lapar apapun makanannya tak afdhol
rasanya jika bukan nasi yang dimakan. Begitupun Al Quran.
“Saya berminat
sekali untuk menyelesaikan hafalan 30 juz. Dan yang memotivasi saya adalah
kelima anak saya, istri saya, dan ibu saya yang sudah tiada. Tiada yang lebih
berharga bagi saya selain menjadi contoh bagi anak dan istri saya dan bakti
saya untuk ayah dan ibu saya”.
Pada hari ke 15
pada program karantina 30 hari hafal qur’an Hamasah, Ahmad Soleh sempat drop.
Badannya panas menggigil, bibirnya kering, matanya memerah, dengan tubuh lemas
tak berdaya. Dalam keadaan terbaring ia tetap memegang Al Qur’an kecilnya. Dan
terus mengulang-ngulang hafalannya. Dan Alhamdulillah ujian demi ujian telah
terlewati. Sampai akhir kesempatan yang Allah berikan.
Subhanallah.
Semangatnya yang kuat dan niatnya yang tulus menginspirasi kita semua, betapa
indah rasanya sebuah perjuangan bersama Al Qur’an. Betapa nikmat rasanya bisa
berkumpul bersama para malaikat yang sama-sama mendoakan orang-orang yang
menyaksikan khatam Al Qur’an di pulau seribu pure, Bali- Indonesia bersama
Ahmad Sholeh dan para pejuang Qur’an lainnya di penghujung tahun 2014.
Semoga Allah SWT
selalu membimbing lisan kita dan menjadikan hati kita bersih dalam mempelajari
kalamNya. Menjadikan bacaan kita Haqqatilawah, bacaan yang sebenar-benar bacaan
yang diridhoiNya.
Ust. Jaenal Arifin
Hamasah Allahuakbar
Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *