Karantina

KARANTINA TAHFIZH NASIONAL MENGHAFAL QURAN 30 JUZ  DALAM 30 HARI 

Angkatan 5, di Belitung klik video berikut:

Angkatan 4, di Bandung klik video berikut:

Angkatan 3, di Belitung klik video berikut:

Angkatan 2, di Bali klik video berikut:

Angkatan 1, di Bandung klik video berikut:

 

Menghafal kurang lebih 604 halaman kitab suci Al-Qur’an bukanlah hal yang mustahil untuk dilakukan. Para penghapal al-Qur’an yang tersebar di seluruh Dunia telah membuktikannya.

Proses menghafal qur’an biasanya membutuhkan kurun waktu yang beragam. Mulai dari puluhan tahun, 6 tahun, dua tahun hingga beberapa bulan tergantung kuantitas ayat yang dihafalnya. Adapun kualitas hafalan bergantung dari seberapa sering para penghafal al-qur’an mengulang-ngulang hafalannya yang tentu saja proses tersebut berlaku seumur hidup.

Tujuan lembaga kami adalah bagaimana proses menghafal al-qur’an yang biasanya memakan waktu panjang dapat dipercepat dan dipersingkat. Oleh karena itu kami melakukan sejumlah riset dan memadu padankan sejumlah metode dari berbagai sumber dalam menciptakan terobosan terbaru dalam proses penghafalan al-Qur’an.

Untuk pertama kali, lahirlah metode “Karantina 30 juz hafal Al-Qur’an dalam 30 Hari”. Dasar utamanya adalah apabila fikiran kita fokus dan bawah sadar terbuka, maka tidak mustahil 20 halaman Al-Qur’an dapat dihafal dalam kurun waktu 1 hari.

Hal ini dibuktikan dengan lulusnya peserta karantina pertama di Bandung (10 Juni s.d 10 Juli 2014), yang mampu menghafal ribuan ayat Al-Qur’an dalam kurun waktu 30 hari bahkan beberapa diantaranya mampu menyelesaikan dalam waktu kurang dari 30 hari.

Kami juga berkeyakinan bahwa usia dan profesi bukanlah hambatan dalam menghafal al-Qur’an. Hal ini dibuktikan dengan ragam usia para peserta karantina, mulai dari dibawah 10 tahun hingga diatas 40 tahun. Juga profesi yang beragam, mulai dari pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga, guru hingga pengusaha. Semuanya mampu menghafal al-Qur’an dengan semangat yang luar biasa.

 

Proses Karantina

Dokumentasi Hamasah Angkatan 4 Bandung

Pada prosesnya, setiap peserta karantina menghafal dengan memilih salah satu metode menghafal alquran (kami menyiapkan sembilan metode), atau bahkan mengkombinasikannya. Setelah hafal satu halaman atau lebih, para peserta kemudian menyetorkan hafalannya kepada salah seorang muhafidz (penerima setoran hafalan qur’an) dari total lima muhafidz, agar kemudian di cek hafalannya, (benar tidak bacaannya) lalu kemudian diberi nilai. Penilaian terbagi menjadi tiga, Mumtaz (sempurna), Makbul (dapat diterima), Dhaif (lemah/harus diulangi kembali). Hal tersebut tercatat pada sebuah buku khusus pencatatan setoran hafalan Al-Qur’an.

Setiap hari mulai jam tiga dini hari, peserta sudah melakukan kegiatan hafalan qur’an hingga jam sebelas malam, diselingi istrirahat tidur siang dan shalat bersama. Para peserta diawasi setiap harinya mulai dari segi kesehatan, kebutuhan nutrisi, keamanan hingga kebutuhan motivasi. Dari segi kesehatan, kami melakukan pengecekan minimal tiga kali sehari, pemberian suplemen herbal seperti madu dsb hingga melibatkan ahli medis. Adapun kebutuhan nutrisi harian, kami menyiapkan makanan sehat yang bervariatif, mulai dari olahan daging, sayuran, buah-buahan, susu, hingga camilan-camilan bergizi agar peserta memiliki energi yang cukup dalam menghafal al-Qur’an

Keamanan dan kenyamanan peserta kami berusaha untuk terus ditingkatkan. Sebagai bentuk perwujudannya, kami membuka layanan diskusi langsung dengan peserta terhadap apa yang peserta harapkan, baik berupa saran ataupun permintaan langsung kebutuhan khusus mereka. Dari segi keamanan, kami melibatkan penduduk sekitar lokasi karantina, aparat pemerintahan sekitar lokasi karantina hingga petugas keamanan khusus lokasi karantina maupun pihak berwajib (pihak kepolisian) untuk sama-sama menjaga proses karantina. Hal ini dimaksudkan agar proses karantina berjalan lancar tanpa gangguan yang tidak diinginkan.

Motivasi adalah faktor penting dalam suksesnya peserta menghafal Al-Qur’an. Untuk itu kami jadikan agenda penting dalam proses karantina. Kami membakar semagat motivasi para peserta dengan berbagai cara, diantaranya: menghadirkan motivator khusus, pemberian tanda penghargaan/hadiah, menggerakan para muhafidz untuk selalu menyemangati, refreshing setiap hari jum’at semasa karantina (berenang, bermain futsal dsb), kontak orang tua setiap hari jum’at, hingga terapi khusus perindividu.

 

Facebook Comments

Yayasan Karantina Tahfizh Nasional Indonesia (Desa Wisata Quran Hamasah)