AL QURAN SEBAGAI PENTUNJUK DAN RAHMAT

 

Al Quran yang secara harfiah artinya “Bacaan Sempurna” sungguh merupakan nama pilihan dari Allah yang sangat tepat, karena tiada satu bacaan pun sejak manusia mengenal tulis-baca yang mampu menandingi Al-quran al-kariim bacaan sempurna lagi mulia itu.

Sungguh tidak ada bacaan seperti Al-Quran yang tetap bisa dibaca oleh ratusan juta orang yang tidak mengerti artinya dan atau tidak dapat menulis dengan hurufnya. Sungguh Al Quran adalah Firman Allah untuk makhluqnya.

Sungguh bahwa hanya Al-Quran yang diatur tatacara bacanya, mana yang dipendekkan mana yang dipanjangkan, dipertebal atau diperhalus ucapannya, dimana tempat terlarang atau boleh berhenti atau memulainya, bahkan diatur juga lagu dan iramanya bahkan sampai kepada etika membacanya.

Al-Qur’an adalah cahaya yang menerangi perjalanan hidup seorang hamba dan menuntunnya menuju keselamatan dunia dan akhirat. Cahaya itu ada dua.

Keduanya dipadukan oleh Allah ta’ala di dalam firman-Nya

 

“Dahulu kamu -Muhammad- tidak mengetahui apa itu al-Kitab dan apa pula iman, akan tetapi kemudian Kami jadikan hal itu sebagai cahaya yang dengannya Kami akan memberikan petunjuk siapa saja di antara hamba-hamba Kami yang Kami kehendaki.” (QS. asy-Syura: 52)

 

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata,

“…Dan sesungguhnya kedua hal itu -yaitu al-Qur’an dan iman- merupakan sumber segala kebaikan di dunia dan di akherat. Ilmu tentang keduanya adalah ilmu yang paling agung dan paling utama. Bahkan pada hakekatnya tidak ada ilmu yang bermanfaat bagi pemiliknya selain ilmu tentang keduanya.” (lihat al-‘Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu, hal. 38)

 

Di ayat lain Allah ta’ala berfirman

 

“Wahai umat manusia, sungguh telah datang kepada kalian keterangan yang jelas dari Rabb kalian, dan Kami turunkan kepada kalian cahaya yang terang-benderang.” (QS. an-Nisaa’: 174)

 

Allah ta’ala berfirman,

 

“Allah adalah penolong bagi orang-orang yang beriman, Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya, adapun orang-orang kafir itu penolong mereka adalah thoghut yang mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan-kegelapan.” (QS. al-Baqarah: 257)

 

Allah ta’ala berfirman,

 

“Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, sehingga dia tidak dapat keluar darinya? Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS. al-An’aam: 122)

 

Selain itu Al Quran adalah sebagai petunjuk jalan kebenaran dan keselamatan. Al Quran memberikan rambu-rambu tentang yang hak dan yang bathil.

 

Allah ta’ala berfirman,

“Alif lam lim. Inilah Kitab yang tidak ada sedikit pun keraguan padanya. Petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 1-2).

 

Allah ta’ala berfirman

 

“Sesungguhnya al-Qur’an ini menunjukkan kepada urusan yang lurus dan memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman yang mengerjakan amal salih bahwasanya mereka akan mendapatkan pahala yang sangat besar.” (QS. al-Israa’: 9).

 

Oleh sebab itu merenungkan ayat-ayat al-Qur’an merupakan pintu gerbang hidayah bagi kaum yang beriman.

 

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, agar mereka merenungi ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shaad: 29).

 

Allah ta’ala berfirman,

“Apakah mereka tidak merenungi al-Qur’an, ataukah pada hati mereka itu ada gembok-gemboknya?” (QS. Muhammad: 24).

 

Allah ta’ala berfirman

“Apakah mereka tidak merenungi al-Qur’an, seandainya ia datang bukan dari sisi Allah pastilah mereka akan menemukan di dalamnya banyak sekali perselisihan.” (QS. an-Nisaa’: 82)

 

Allah ta’ala berfirman,

“Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya dia tidak akan sesat dan tidak pula celaka.” (QS. Thaha: 123).

 

Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma berkata,

 

“Allah memberikan jaminan kepada siapa saja yang membaca al-Qur’an dan mengamalkan ajaran yang terkandung di dalamnya, bahwa dia tidak akan tersesat di dunia dan tidak celaka di akherat.” Kemudian beliau membaca ayat di atas (lihat Syarh al-Manzhumah al-Mimiyah karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, hal. 49).

 

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menerangkan, bahwa maksud dari mengikuti petunjuk Allah ialah:

 

  1. Membenarkan berita yang datang dari-Nya,
  2. Tidak menentangnya dengan segala bentuk syubhat/kerancuan pemahaman,
  3. Mematuhi perintah,
  4. Tidak melawan perintah itu dengan memperturutkan kemauan hawa nafsu (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 515 cet. Mu’assasah ar-Risalah)

 

 

 

 

  1. Al Quran Sebagai Obat Dari Segala Obat

Sifat Rahman dan Rahim Allah dalam Kalimah Bismillah

Dengan
(menyebut) Nama Allah yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang
Mari kita
memulai kalimat agung dengan Basmallah.
Karena hanya dengan menyebut nama Allah di awal aktivitas kita akan membuat
segala aktivitas hati menjadi lebih tenang.
Setiap
surat dalam Al Quran selalu dimulai dengan kalimah Bismillah kecuali surat At Taubah. 113 surat lainnya selalu
dimualai dengan Bismillah, maka inilah
bukti kasih sayangnya Allah bahwa Dia selalu mengingatkan kita akan Kasih Sayangnya agar kita selalu ingat
dan bersyukur.
Mari
kita mengawali pembahasan ini dengan kalimat Bismillahirrahmanirrahim. Dengan
lafadz Bismillah yang berarti menunjukkan nama yang agung yang berarti
“Dengan menyebut Allah Allah”
dengan di ikuti kata selanjutnya Rahman dan Rahim yang berarti merujuk kepada
sifat-sifat Allah  Yang Maha Pengasih dan
Yang Maha Penyayang. Dengan arti lengkapnya
“Bismillahirrahmanirrahim” Adalah “Dengan menyebut nama Allah
Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” Dalam hal ini ada dua sifat Allah
yang sangat jelas yakni
1.       Yang Maha Pengasih
(Pemurah)
2.       Yang Maha Penyayang
Mari kita
bahas satu persatu
Ar- Rahman (Maha
Pengasih)
Ar Rohman adalah sifat kasih sayangnya Allah
kepada segenap mahluknya. Ini berlaku kepada siapa saja, apa saja, dimana saja
sejak jaman Nabi Adam dahulu kala sampai hari kiamat.
Sifat
Allah yang Maha Pengasih ini dapat kita rasakan di setiap waktu, disetiap
helaan nafas dan sepanjang hayat kita. Salah satu contoh kecil dari kasih Allah
yang dapat kita rasakan itu adalah nikmat. Seperti nikmat hidup, kita semua di
izinkan untuk hidup di bumi Allah, yang telah dilengkapi oleh Allah fasilitas
yang menunjang kehidupan kita, seperti di kasih udara, air, api, tumbuhan dan
binatang. Serta nikmat harta yang Allah berikan kepada siapapun, bahkan
termasuk orang kafir yang ingkar kepada Allah sekalipun, Allah Maha Pengasih
kepada seluruh makhluk.
Banyak
orang yang berpikiran bahwa banyak jalan menuju Allah. Mungkin maksud mereka
dengan agama apa saja mereka bisa menuju Allah, justru ini pemikiran yang
sangat tidak benar. Sahabat Quran Hamasah, banyak orang didunia ini beranggapan
bahwa orang bisa berbuat apa saja sekehendak hatinya tanpa memperdulikan
keberadaan Allah. Hingga akhirnya, karena kesenangan yang mereka dapatkan,
mereka menjadi ingkar dengan sifat Rahman nya Allah. Padalah meskipun Allah
berikan kesenangan yang merata kepada seluruh manusia di dunia, namun
kesenangan dunia hanyalah kesenangan sementara.
Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman:
 “Ketahuilah oleh kalian, sesungguhnya
kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan
dan bermegah-megahan di antara kalian serta berbangga-banggaan dengan banyaknya
harta dan anak, seperti hujan yang karenanya tumbuh tanam-tanaman yang membuat
kagum para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya
kuning lantas menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada adzab yang keras dan
ampunan dari Allah serta keridhaan- Nya. Dan kehidupan dunia itu tidak lain
hanyalah kesenangan yang menipu
.” (Al- Hadid: 20)
 Hal ini disampaikan juga oleh sabda Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa
sallam saat berpesan kepada Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, sambil
memegang pundak iparnya ini:
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ
Jadilah
engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang yang sekedar
lewat (musafir)
.” (HR. Al-Bukhari no. 6416)
Abdullah bin Umar
radhiyallahu ‘anhuma pun memegang teguh wasiat Nabinya baik dalam ucapan maupun
perbuatan. Dalam ucapannya beliau berkata setelah menyampaikan hadits Rasul
Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas,
Bila engkau berada
di sore hati maka janganlah engkau menanti datangnya pagi. Sebaliknya bila
engkau berada di pagi hari, janganlah menanti sore. Gunakanlah waktu sehatmu
(untuk beramal ketaatan) sebelum datang sakitmu. Dan gunakan hidupmu (untuk
beramal shalih) sebelum kematian menjemputmu
.”
Sahabat Quran yang dirahmati
Allah, yuk kita sadari sifat Rahmannya Allah adalah wujud cinta kepada kita
sebagai muslim di dunia yang justru untuk menjadi hamba yang taat kepadanya.
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia
melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.
Ar-Rahim (Maha
Penyayang)
Ar-Rahim  adalah Sifat Penyayang Allah yang khusus diberikan
kepada hambaNya di akhirat yang taat yang tidak menyekutukannya. Hal ini Allah
bedakan khusu hanya untuk orang orang yang Allah kehendaki untuk memasuki
Jamuan Allah yaitu Syurganya Allah.
Allah
Maha Penyayang karena memang Allah benar-benar menyayangi/mencintai hambaNya. Letak
perbedaan sifat Ar Rahman (Maha Pengasih) dengan Ar Rahiim (Maha Penyayang)
adalah sifat Ar Rahman (Maha Pengasih) meliputi seluruh makhluk Allah baik yang
beriman mau pun yang kafir di dunia. Dimana dengan sifat Ar Rahman,  Allah memberikan
alam semesta ini seperti air, udara, bumi dan sebagainya ke semua makhluknya
tanpa pandang bulu. Ada pun sifat Ar Rahim (Maha Penyayang) itu adalah khusus
bagi hamba-hamba Allah yang beriman dan bertaqwa, mengakui keesaan Allah, dan menjalankan
seluruh perintahnya.
Pernah, suatu hari
Rasululah bersama para sahabat dalam perjalanan kembali dari perang melihat
seorang ibu lari menyeruak ke tengah-tengah bekas pertempuran. Ia gelisah,
wajahnya menyimpan kekhawatiran yang mendalam. Ia sedang mencari putranya. Ia
berlari dihadang debu yang beterbangan disapu angin.
Akhirnya, ia menemukan
putranya tersebut. Didekapnya sang putra penuh kerinduan bercampur kecemasan.
Diberinyalah air susu. Matahari menyengat panas mengenai kulit anak itu. Dengan
perlahan, ibu tersebut menggerakkan tubuhnya, dihadangnya sengatan matahari itu
dengan punggungnya. Rasul menyaksikan kejadian itu lalu ia berkata kepada
sahabat yang lain, “Lihat, betapa sayangnya ibu itu kepada anaknya. Mungkinkah
ibu itu melemparkan anaknya ke api neraka?” Para sahabat menjawab, “Tidak
mungkin, ya, Rasulullah.” Lalu, Rasul berkata
“Sungguh Allah lebih
penyayang terhadap hamba-hamba-Nya daripada seorang ibu terhadap anak bayinya”
[HR Bukhari dan Muslim]
Begitulah Allah Yang
Maha Penyayang terhadap makhlukNya dengan seadil-adilnya.

قُلْ يَاعِبَادِي
الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لاَتَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ
يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah:
“Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah
kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa
semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Az
Zumar: 53)
Sahabat
Quran, sungguh beruntung sekali orang yang mendapatkan Ampunan dari Allah kelak
di akhirat. Karena ampunan Allah adalah bukti Sayangnya Allah kepada
makhluknya. Namun tidaklah semua mendapatkan ampunan dari Allah. Hal ini
disebabkan karena kekufuran manusia dalam memenuhi seruanNya.
Sahabat Quran Hamasah, telah diceritakan baik di dalam Al-quran
dan Hadist, bahwa semua makhluk termasuk manusia akan dikumpulkan disuatu
tempat kelak di akhirat nanti, tempat yang luasnya seluas langit dan bumi dan
seluruh makhluk berkumpul menjadi satu untuk menunggu keputusan Allah SWT
tentang nasib mereka selanjutnya. Tempat itu adalah Padang Mahsyar. Disana kita
akan menerima catatan amal yang telah kita lakukan ketika hidup didunia. Sebagaimana
Rasulullah saw. bersabda yang diriwayatkan dari Ummu Salamah ra.
“Manusia akan
dikumpulkah pada hari Kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki dan telanjang
tubuhnya. Maka saya (Ummu Salamah) bertanya: Ya Rasulullah, bagaimana dengan
kaum wanita? (maksudnya apakah juga telanjang). Jawab Rasulullah saw: Manusia
sibuk (dengan urusan-urusannya masing-masing) hari Ummu Salamah. Saya bertanya:
Apakah yang membuat mereka sibuk? Jawab beliau: (karena) dibukanya
catatan-catatan yang tercantum padanya perkara-perkara yang seberat atom dan
perkara-perkara yang seberat biji sawi.”
Begitupun yang diriwayatkan dari Aisyah ra.
Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Pada
hari kiamat manusia akan dikumpulkan dalam keadaan tidak beralas kaki,
telanjang dan tidak berkhitan. Aku bertanya: Wahai Rasulullah, kaum wanita dan
lelaki semuanya akan saling memandang satu sama lain? Beliau bersabda: Wahai
Aisyah, keadaan saat itu lebih menegangkan sehingga mereka tidak akan saling
memandang satu sama lain.(HR.Muslim)
Oleh
karena itu sebagai orang yang beriman kepada Al Quran tentu kita harus
mempersiapkan dan menyambut kasih sayang Allah di dunia dan akhirat. Karena
sejatinya bagi seorang muslim, bahwa yang terpenting adalah Allah Ridho
terhadap kita di dunia dan akhirat.
Mari kita
mulai dengan Bismillahirrahmanirrahim. Menyebut NamaNya, Meng-Esa-kanNya, dan
MemujiaNya. Semoga kita termasuk kedalam Hamba-hambaNya yang selalu bersyukur.

 

Aamiin

Program Karantina Tahfizh Nasional 30 Hari Menghafal Quran Belitung Dilanjutkan Ke Angkatan 5

Program Karantina Tahfizh Nasional 30 Hari Menghafal Quran Belitung Dilanjutkan Ke Angkatan 5




REVIEW ACARA TAHUN LALU

HEADLINE BELITONG EXPRESS







TANJUNGPANDAN – Setelah menjalani karantina selama 1 bulan, akhrinya ke-47 peserta training hafiz/hafizah dari Yayasan Desa Wisata Qur’an Hamasah diwisuda, Minggu (28/6) kemarin. Acara wisuda bertajuk “Wisuda Akbar Karantina Nasional 30 Hari Hafal Al-Qur’an” ini berlangsung di Baginda Ballroom, Hotel Grand Hatika Tanjungpandan. Hadir dalam acara wisuda tersebut Kapolres Belitung AKBP Candra Sukma Kumara.
Ke-47 wisudawan merupakan peserta training hafalan al-Qur’an 30 juz yang datang dari berbagai kota di Indonesia, bahkan beberapa peserta ada yang berasal dari Jerman dan Turki. Para hafiz/hafizah ini dikarantina dan diberi materi hafalan al-Qur’an selama 1 bulan.
Ketua panitia training 30 Hari Hafal Qur’an Rikrik Sunaryadi mengatakan bahwa program ini merupakan salah satu program yang diselenggarakan Yayasan Desa Wisata Qur’an Hamasah. Tujuannya adalah mencari para hafiz/hafizah untuk bersama-sama berkonsentrasi menghafal 30 juz Al-Qur’an selama 30 hari.
Kota Tanjungpandan merupakan kota ketiga yang disinggahi sebagai tempat training. Sebelumnya, training diadakan di Kota Bandung, Jawa Barat, dan Kota Denpasar, Bali. Acara wisuda juga diisi dengan pertunjukan seni kreatif dari para hafiz/hafizah. Beberapa seni kreatif yang ditunjukkan antara lain nasyid, rap religi, dan seni drama.
Dudi Akasyah, peserta dari Jakarta ini mengajak istri dan anaknya untuk ikut training selama sebulan. Ia beralasan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat untuk menumbuhkembangkan semangat menghafal Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam. “Sangat bahagia. Selama 30 hari berinteraksi dengan Al-Qur’an, kami punya pengalaman yang luar biasa. Sekeluarga sengaja ikut agar sama-sama menjaga hapalan dan bisa saling mengingatkan,” ungkapnya kepada Belitong Ekspres. (mg3)