Karantina Tahfizh 30 juz Dalam 30 Hari Hafal Quran di Hamasah

 

 

Hai apa Kabar Sahabat Quran Hamasah?

Alhamdulillah Luar biasa Hafizh Quran Allahu Akbar..

 

Nah sob, tadi tuh salah satu dari jargon kami nih yang ada di Hamasag ini,

Ohh iya mimin mau update informasi lagi nih, tentang para peserta Karantina Tahfizh 30 juz dalam 30 hari Hamasah yang sedang berlangsung saat ini, untuk peserta ikhwan ada dua lagi nih sudah pada dewasa. Yang satu masih single dan yang satunya lagi sudah menikah alias sudah bapa-bapa gitu.

Tapi masya Allah banget kan sob, yang sudah tua saja sudah punya keluarga beliau masih mau belajar dan menghafal Al quran gimana kalau kita?

Baiklah mimin akan perkenalkan satu satu nih, yang pertama yang masih single beliau bernama Ermansyah, umur beliu sekitar 26 tahunan, alamat nya berasal dari Kapau, Kumabng Timur Begkulu. Wahh jauh juga ya sob, jauh jauh datang ke Hamasah hanya dengan satu tujuan yaitu menghafal A-Quran. Masya Allah

Oke sob, mau tau hasil pencapaian beliau sampai saat ini sudah sampai mana? Oke jadi beliau tuh Alhamdulillah dari awal hingga saat ini beliau sudah meraih 14 juz ditambah 21 halaman, tetap semangat  bang Erman , semog selalu di lancarkan dalam memghafal quran nya. AMIIIN

 

Terakhir satu ikhwan lagi niihh, yang sudah menikah dan berkeluarga beliau bernama Bapak Dhoni, beliau berasal dari Blitar, Alhamdulillah nih bapak yang satu ini pencapaian hasil hafalannya sudah mencapai 8 juz 20 halaman. Salutt lah ke si Bapa Dhoni ini. Semangat yaa pakk

 

Oke jelas kan sob, tentang informasi mengenai peserta karantina ikhwan ini, selanjutnya mimin akan berikan info tentang peserta Karantina Akhwat nya lohh..penasaran yaa

Tunggu saja, stay terus

Facebook Comments

Defenisi dan Nama-nama Al-Quran

Defenisi dan Nama-nama Al-Quran

 Di antara kemurahan Allah kepada manusia bahwa Dia tidak saja memberikan sifat (fitrah) yang bersih yang dapat membimbing dan memberi petunjuk bagi mereka ke arah kebaikan, tetapi juga dari waktu ke waktu Dia mengutus seorang Rasul kepada manusia dengan membawa al kitab dari Allah dan menyuruh mereka beibadah hanya kepada Allah saja. Menyampaikan kabar gembira dan memberikan peringatan, agar yang demikian menjadi bukti bagi manusia.

 

`Selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana`.( An-Nisa`: 165 )

Perkembangan dan kemajuan berpikir manusia senantiasa disertai dengan wahyu yang sesuai dan dapat memecahkan problem-problem yang dihadapi oleh kaum setiap Rasul saat itu. Sampai perkembangan itu mencapai kematangannya. Allah menghendaki agar risalah Muhammad muncul dipermukaan bumi ini. Maka diutuslah beliau di saat manusia sedang mengalami kekosongan para Rasul, untuk menyempurnakan ` bangunan` saudara-saudara pendahulunya ( para rasul ) dengan syriatnya yang universal dan abadi serta dengan kitab yang diturunkan kepadanya, yaitu al-quranl karim.

 

`Perumpamaan aku dengan nabi sebelum aku adalah bagaikan orang yang membangun sebuah rumah, dibuat dengan baik dan diperindahkanya rumah itu, kecuali letak sebuah bata disudutnya. Maka orang-orang pun mengelilingi rumah itu, mereka mengaguminya dan berkata: seandainya bukan karena satu batu bata ini, tentulah rumah itu sudah sempurna. Maka akulah batu bata itu, dan akulah penutup para nabi.` .

 

Qur`an adalah risalah Allah kepada manusia semuanya, banyak nash yang menunjukkan hal itu, baik di dalam qur`an maupun di dalam sunnah.

 

`Katakanlah: `Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua`,( Al A`raf :158 ).

 

`Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam , Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam`,( Al-Furqan : 1 )

 

`Setiap nabi diutus kepada kaumnya secara khusus, sedang aku diutus untuk segenap manusia,` .

 

Sesudah Muhammad saw. Tidak akan ada lagi kerasulan lain.

 

`Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu , tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi`.(Al Ahzab : 40 ).

 

Maka tidaklah aneh apabila quran dapat memenuhi semua tuntutan kemanusiaam berdasarkan asas-asas pertama konsep agama samawi.

 

`Dia telah mensyari`atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu : `Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya`.( Asyuraa: 13 ).

 

Rasulullah SAW juga telah menantang orang-orang arab dengan quran, padahal quran diturunkan dengan bahasa mereka dan mereka pun ahli dalam bahasa itu dan retorikanya. Namun ternyata mereka tidak mampu membuat apapun seperti quran, atau membuat sepuluh surah saja, bahkan satu surah pun sepertu quran. Maka terbuktilah kemukjizatan quran dan terbukti pula kerasulan Muhammad. Allah telah menjaga kerasulannya da menjaga pula penyampaiannya yang beruntun. Tentang jibril yang membawa quran itu diantaranya dilukiskan :

 

`Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin`,( Asyuraa : 193 ).

 

Dan diantara sifat quran dan sifat orang yang diturunkan kepadanya quran itu adalah :

 

`Sesungguhnya Al Qur`aan itu benar-benar firman utusan yang mulia , yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai `Arsy, yang dita`ati di sana lagi dipercaya. Dan temanmu itu bukanlah sekali-kali orang yang gila. Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang. Dan dia bukanlah orang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib`.(at-taqwir : 19-24 ).

 

`Sesungguhnya Al-Quraan ini adalah bacaan yang sangat mulia, Sesungguhnya Al-Quraan ini adalah bacaan yang sangat mulia, tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan`.(al waqiah :77-79 ).

 

Keistimewaan yang demikian ini tidak dimiliki oleh kitab-kitab yang terdahulu, karena kitab-kitab itu diperuntukkan bagi satu waktu tertentu, maka benarlah Allah dengan firman-Nya:

 

`Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur`an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya`.(al Hijr : 9 )

 

Risalah quran disamping ditujukan kepada manusia juga ditujukan kepada jin.

 

`Dan ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Qur`an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan lalu mereka berkata: `Diamlah kamu `. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya memberi peringatan. Mereka berkata: `Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih`.( al-Ahqaf : 29-31 ).

 

Dengan keistimewaan itu Quran dengan memecahkan problem-problem kemanusiaan diberbagai segi kehidupan, baik rohani, jasmani sosial, ekonomi maupun politik dengan pemecahan yang bijaksana, karena ia diturunkan oleh yang Maha Bijaksana dan maha terpuji. Pada setiap problem itu Quran meletakkan sentuhan yang mujarab dengan dasar-dasar yang umum yang dapat dijadikan landasan untuk langkah-langkah manusia, dan yang sesuai pula buat setiap zaman. Dengan demikian Quran selalu memperoleh kelayakannya disetiap waktu dan tempat, karena Islam adalah agama yang abadi. Alangkah menariknya apa yang dikatakan oleh seorang juru dakwah abad ke 14 ini:

 

`Islam adalah suatu sitem yang lengkap, ia siap mengatasi setiap segala gejala kehidupan, ia adalah negara dan tanah air, atau pemerintah dan bangsa, ia adalah moral dan potensi atau rahmat dan keadilan. Ia adalah pengetahuan dan undang-undang atau ilmu dan keputusan. Ia adalah materi dan kekayaan, atau pendpatan dan kesejahteraan. Ia adalah jihad dan dakwah atau tentara dan ide. Begitu pula ia adalah aqidah yang benar dan ibadah yang sah.`

 

Manusia yang kini tersiksa hati nuraninya dan ahlaknya sudah rusak, tidak mempunyai pelindung lagi dari kejatuhannya kejurang kehinaan selain dari pada Quran. `Allah berfirman: `Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta`.( Taha : 123-124 ).

 

Kaum muslimin sendirilah yang membangun obor ditengah-tengah sistem-sistem dan prinsip-prinsip lain. Mereka harus menjauhkan diri dari segala kegemerlapan yang palsu. Mereka harus membimbing manusia yang kebingungan dengan Quran sehingga terbimbing kepantai keselamatan. Seperti halnya kaum muslimin dahulu mempunyai negara dengan mempunyai Quran, maka tidak boleh tidak pada masa kini pun mereka harus memiliki negara dengan Quran juga.

 

Definisi Quran

 

Qara`a mempunyai arti mengumpulkan dan menghimpun, dan qira`ah berarti menghimpun huruf-huruf dan kata-kata satu dengan yang lain dalam suatu ucapan yang tersusun rapih. Qur`an pada mulanya seperti qira`ah , yaitu masdar (infinitif) dari kata qara` qira`atan, qur`anan. Allah berfirman:

 

`Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya dan membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu`. (Al;-Qiyamah :17-18).

 

Qur`anah berarti qiraatun (bacaannya/cara membacanya). Jadi kata itu adalah masdar menurut wazan (tashrif, konjugasi)`fu`lan` dengan vokal `u` seperti `gufran` dan `syukran`.Kita dapat mengatakan qara`tuhu , qur`an, qira`atan wa qur`anan, artinya sama saja.Di sini maqru` (apa yang dibaca) diberi nama Qur`an (bacaan); yakni penamaan maf`ul dengan masdar.

 

Qur`an dikhususkan nama bagi kitab yang diturunkan kepada Muhammad s.a.w, sehingga Qur`an menjadi nama khas kitab itu, sebagai nama diri. Dan secara gabungan nama itu dipakai nama qur`an secara keseluruhan, begitu juga untuk penamaan ayat-ayatnya. Maka jika kita mendengar orang yang membaca ayat al-Qur`an, kita boleh mengatakan bahwa ia sedang membaca Qur`an.

 

`Dan apabila dibacakan Al Qur`an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat `. (al-Araf :204)

 

Sebagian ulama menyebutkan bahwa penamaan kitab ini dengan nama qur`an di antara nama-nama kitab Allah itu karena kitab ini mencakup inti dari kitab-kitab-Nya, bahkan mencakup inti dari semua ilmu.

 

Akan hari Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri` (an-Nahl:89).

 

Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab`(al-An`am : 38 ).

 

Sebagian ulama berpendapat bahwa kata Quran itu pada mulanya tidak berhamzah sebagai kata jadian, mungkin ia dijadikan sebagai suatu nama bagi kalam yang diturunkan kepada Nabi saw., dan bukanya kata jadian dari Qara`a atau mungkin juga karena ia berasal dari kata qarana asy-sya`ia bisy-syai`i yang berarti memperhubungkan sesuatu dengan yang lain, atau juga berasal dari kata qaraa`in ( saling berpasangan ) karena ayat-ayatnya satu dengan yang lain saling menyerupai. Dengan demiian maka huruf Nun itu asli. Namun pendapat ini masih diragukan. Yang benar ialah pendapat yang pertama.

 

Qur`an memang sukar diberi batasan dengan definisi-definisi logika yang mengelompokkan segala jenis, bagian-bagaian serta ketentuan-ketentuannya secara khusus, mempunyai genus, diferensia, dan propium, sehingga definisi qur`an mempunyai batasan yang benar-benar konkrit. Definisi untuk Qur`an yang konkrit ialah menghadirkannya dalam fikiran atau dalam realita seperti misalnya kita menunjuk sebagai Quran kepada yang tertulis didalam mushaf atau terbaca dengan lisan. Untuk itu kita katakan Quran adalah: Apa yang ada diantara dua jilid buku, atau kita katakan juga; Quran adalah bismillahirrahmanirrahim alhamdulillahirabbil alamin��sampai dengan minal jinnati wannas.

 

Para ulama menyebutkan definisi Quran yang mendekati makananya dan membedakannya dari yang lain dengan menyebutkan bahwa: `Quran adalah kalam atau firman Allah yang diturunkan kepada Muhamad saw. Yang pembacanya merupakan suatu ibadah`. Dalam deinisi `kalam` merupakan kelompok jenis yang meliputi segal kalam. Dan dengan menghubungkannya dengan Allah ( kalamullah ) berarti tidak semua masuk dalam kalam manusia, jin dan malaikat.

 

Dan dengan kata-kata `yang diturunkan` maka tidak termasuk kalam Allah yang sudah khusus menjadi milik-Nya.

 

`Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu `.(al-Kahfi: 109).

 

`Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut , ditambahkan kepadanya tujuh laut sesudah nya, niscaya tidak akan habis-habisnya kalimat Allah . Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana`.( Luqman: 27 ).

 

Dan membatasi apa yag diturunkan itu hanya `kepada Muhammad saw` Tidak termasuk yang diturunkan kepada nabi-nabi sebelumnya seperti taurat, injil dan yang lain.

 

Sedangkan `yang pembacanya merupakan suatu ibadah` mengecualikan hadis ahad dan hadis-hadis qudsi bila kita berpendapat bahwa yang diturunkan dari Allah itu kata-katanya -sebab kata-kata `pembacanya sebagai ibadah` artinya perintah untuk membecanya di dalam shalat dan lainnya sutau ibadah. Sedangkan qiraat ahad dan hadis-hadis qudsi tidak demikian halnya.

 

 

Nama dan Sifatnya

 

Allah menamakan Quran dengan beberapa nama, diantaranya:

 

  1. Qur`an

 

`Al Qur`an ini memberikan petunjuk kepada yang lebih lurus`.( al-Israa:9)

 

  1. Kitab

 

`Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu`.(al-Anbiyaa: 10)

 

  1. Furqan

 

Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam`,(al-Furqan: 1)

 

  1. Zikr

 

`Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur`an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya`.( al-Hijr :9)

 

  1. Tanzil

 

`Dan sesungguhnya Al Qur`an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam`,(as-Syuaraa:192 ).

 

Quran dan alkitab lebih populer dari nama-nama yang lain. Dalam hal ini Dr. Muhammada Daraz berkata: ` ia dinamakan Quran karena ia `dibaca` dengan lisan, dan dinamakan al- kitab karena ia `ditulis` dengan pena. Kedua kata ini menunjukkan makna yang sesuai dengan kenyataannya`.

 

Penamaan Quran dengan kedua nama ini memberikan isyarat bahwa selayaknyalah ia dipelihara dalam bentuk hafalan dan tulisan. Dengan demikian, apa bila diantara salah satunya ada yang melenceng, maka yang lain akan meluruskannya, kita tidak dapat menyandarkan hanya dengan haflan seseorang sebelum hafalannya sesuai dengan tulisan yang telah disepakati oleh para sahabat, yang dinukilkan kepada kita dari generasi kegenerasi menurut keadaan sewaktu dibuatnya pertama kali. Dan kita pun tidak dapat menyandarkan hanya kepada tulisan penulis sebelum tulisan itu sesuai dengan hafalan tersebut berdasarkan isnad yang sahih dn mutawatir.

 

Dengan penjagaan yang ganda ini oleh Allah telah ditanamkan kedalam jiwa umat Muhammad untuk mengikuti langkah Nabi-Nya. Maka Quran tetap terjaga dalam benteng yang kokoh. Hal itu tidak lain untuk mewujudkan janji Allah yang menjamin terpeliharanya Quran seperti di firmankan-Nya :

 

`Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur`an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya`.(al-Hijr :9 ).

 

Dengan demikian Quran tidak mengalami penyimpangan, perubahan dan keterputusan sanad seperti terjadi pada kitab-kitab terdahulu.

 

Penjagaan ganda ini diantaranya menjelaskan bahwa kitab-kitab samawi lainnya diturunkan hanya untuk waktu itu, sedang Quran diturunkan untuk membetulkan dan menguji kitab-kitab yang sebelumnya. Karena itu Quran mencakup hakikat yang ada didalam kitab-kitab terdahulu dan menambahnya dengan tambahan yang dikehendaki Allah. Quran menjalankan fungsi-fungsi kitab-kitab sebelumnya, tetapi kitab-kitab itu tidak dapat menempati posisinya. Allah telah menakdirkan untuk menjadikannya sebagai bukti sampai hari kiamat. Dan apa bila Allah mengehndaki suatu perkara, maka Dia akan mempermudah jalannya ke arah itu. Karena Maha Bijaksana dan Maha Tahu. Inilah alasan yang paling kuat.

 

Allah telah melukiskan Quran dengan beberapa sifat, diantaranya ;

 

  1. Nur (cahaya ) :

 

`Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu. dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang`.(an-nisaa : 174 )

 

  1. Huda ( petunjuk ), Syifa` ( obat ), Rahmah ( rahmat ),dan Mauizah ( nasehat ) :

 

`Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman`.( Yunus : 57 ).

 

  1. Mubin ( yang menerangkan ) :

 

`Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan`.( al-Maidah :15 ).

 

  1. Mubarak ( yang diberkati ) :

 

`Dan ini adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya`.(al- An`am ;92 ).

 

  1. Busyra ( kabar gembira ) :

 

`Katakanlah: `Yang membenarkan apa yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman`.(al-Baqarah :97 ).

 

  1. `Aziz ( yang mulia ) :

 

`Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al Quraan ketika Al Quraan itu datang kepada mereka, , dan sesungguhnya Al Quraan itu adalah kitab yang mulia`.( Fushilat : 41 ).

 

  1. Majid ( yang dihormati ) :

 

`Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Qur`an yang mulia`,( al-Buruuj ; 21 ).

 

  1. Basyr ( pembawa kabar gembira ) :

 

`Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling, tidak mau mendengarkan`.( Fushilat ; 3-4 )

Klik n Share http://www.30harihafalquran.com

Yayasan Quran Hamasah

Facebook Comments

MATA-MATA DAN DAJJAL YANG PASTI AKAN DATANG

MATA-MATA DAN DAJJAL YANG PASTI AKAN DATANG

Dari Amir bin Sarahil Asy-Syab’bi, bahwasanya dia bertanya kepada Fathimah bin Qais, adik Adh-Dhahak bin Qais. Fatimah adalah termasuk salah seorang wanita yang turut serta berhijrah pada periode awal. Amir berkata, ”Sampaikanlah kepadaku suatu hadits yang engkau dengar langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak kamu nisbatkan kepada orang lain!”

 

Lalu Fathimah berkata, “aku telah menikahi Al-Mughirah. Pada saat itu, ia merupakan pemuda Quraisy yang terbaik, kemudian ia tertimpa musibah (terbunuh) pada awal jihad bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tatkala aku menjanda, Abdurrahman bin Auf meminang aku melalui sekelompok sahabat Nabi. Sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melamar aku untuk budaknya, Usamah bin Zaid. Ketika itu aku pernah diberitahu bahwa Rasulullah berbsabda, ‘Barangsiapa mencintai aku, maka hendaklah ia mencintai Usamah.’

 

Maka, tatkala Rasulullah mengajak aku berbicara, aku menjawab, ‘Terserah engkau, nikahkanlah aku kepada siapa saja yang engkau kehendaki.’

 

Kemudian beliau memerintahkan agar aku pindah ke rumah Ummu Syarik, ia adalah wanita Anshar yang kaya raya. Sumbangsihnya begitu besar dalam perjuangan di jalan Allah. Para tamu selalu singgah di rumahnya.

Lalu aku menjawab, ‘Akan aku lakukan.’

 

Tiba-tiba beliau berkata, ‘Jangan kamu lakukan itu karena Ummu Syarik mempunyai banyak tamu, sementara aku tidak suka jika kain kerudungmu terlepas dan betismu tersingkap, kemudian orang-orang itu melihat hal-hal yang tidak kamu sukai. Akan tetapi, pindahlah ke rumah sepupumu, Abdullah bin Amr bin Ummi Maktum.’ Dia adalah pria Bani Fihr, yakni Fihr Quraisy. Dia lahir dari qabilah yang sama dengan Fathimah.

 

Kemudian aku pindah ke rumah sepupuku itu. Setelah masa iddahku selesai, aku mendengar seorang muazin berseru. Muazin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu menyeru untuk shalat jamaah. Lalu aku keluar menuju mesjid, kemudian shalat bersama Rasulullah. Pada waktu itu, aku berada pada shaf wanita paling depan.

 

Tatkala Rasulullah telah menyelesaikan shalatnya, beliau duduk di atas mimbar sambil tertawa, kemudian bersabda, ‘Hendaknya masing-masing orang tetap duduk di tempat shalatnya.’ Beliau melanjutkan, ‘Apakah kalian tahu kenapa aku mengumpulkan kalian?’ Mereka menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.’

 

Beliau bersabda, ‘Demi Allah, aku tidak mengumpulkan kalian untuk memberikan semangat, dan bukan mengintimidasi. Aku mengumpulkan kalian karena Tamim Ad-Dari dulunya seorang Nasrani, kemudian ia datang berbai’at dan masuk Islam. Ia menceritakan kepadaku sebuah kisah yang sama seperti apa yang telah aku kisahkan kepada kalian tentang Dajjal.

 

Ia bercerita bahwa ia pernah mengarungi laut dengan kapan laut bersama 30 orang dari suku Lakham dan Judzam, kemudian mereka dipermainkan ombak selama sebulan di tengah laut, lalu mereka berlabuh di sebuah pulau di tengah laut hingga matahari akan terbenam.

 

Kemudian mereka duduk-duduk di perahu kapal dan masuk ke pulau itu. Lalu, sesuatu yang berambut lebat dan tebal menemui mereka. Mereka tidak mengetahui mana bagian depan dan mana belakangnya karena banyak rambutnya. Mereka bertanya, ‘Celaka, siapakah kamu?’ Ia menjawab, ‘Aku adalah Al-Jassasah (mata-mata).’ Mereka bertanya, ‘Apa itu Al-Jassasah?’ Ia menjawab, ‘Wahai kaum, pergilah ke pria yang berada di padepokan gua itu, ia ingin sekali mendengar kabar dari kalian.’

 

Tamim berkata, ‘Tatkala binatang tadi menyebutkan seorang pria kepada kami, kami pun takut kalau sekiranya pria itu setan. Kemudian kami bergegas pergi hingga memasuki gua itu. Ternyata di dalamnya ada seorang pria yang sangat besar. Kami belum pernah melihatnya, ia sedang di belenggu dengan kuat dan erat. Kedua tangannya terikat sampai lehernya, di antara kedua lututnya sampai kedua mata kakinya di belenggu dengan besi.

 

Lalu kami bertanya kepadanya, ‘Celaka, siapakah kamu?’ Dia menjawab, ‘Kalian telah mengetahui tentang aku, maka beritahukan siapakah kalian?’ Kami menjawab, ‘Kami adalah orang-orang dari bangsa Arab. Kami berlayar dengan menaiki sebuah kapal laut. Tiba-tiba kami dikejutkan oleh laut yang mengamuk, lalu kami dipermainkan ombak selama sebulan. Selanjutnya, kami mengungsi ke pulau kamu ini, lalu kami pun duduk di perahu kapan dan masuk pulau. Kemudian binatang berambut lebat dan tebal menemui kami, kami tidak tahu bagian mana depan dan mana belakangnya karena banyak rambutnya.

 

Lalu kami bertanya, ‘Celaka, siapa kamu ini?’ Ia menjawab, ‘Aku adalah Al-Jassasah,’ lalu kami bertanya, ‘Apakah Al-Jasssasah itu?’ Dia berkata, ‘Pergilah ke pria yang berada di gua itu karena ia ingin sekali mendengar kabar dari kalian.’ Lalu kami bergegas menuju anda, kami kaget setelah melihatnya dan merasa takut, siapa tahu itu adalah setan.’

 

Selanjutnya pria itu meminta, ‘Ceritakan kepadaku tentang pohon kurma Baisan!’ Kami balik bertanya, ‘Kabar mana yang ingin kamu ketahui?’ Ia menjawab, ‘Aku bertanya kepada kalian apakah pohon kurma tersebut sedang berbuah?’ Kami menjawab, ‘Ya’, Ia berkata, ‘Bukankah ia hampir tidak berbuah?’

 

Dia berkata, ‘Ceritakanlah kepadaku tentang danau Ath-Thabariyyah.’ Kami bertanya, ‘Kabar mana yang ingin kamu ketahui?’ Dia bertanya, ‘Apakah di dalamnya masih ada air?’ Mereka menjawab, ‘Airnya banyak.’ Dia berkata, ‘Bukankah airnya hampir kering?’

 

Pria itu meminta lagi, ‘Ceritakan kepadaku tentang mata air Zughar.’ Mereka menjawab, ‘Kabar mana yang ingin kamu ketahui?’ Dia bertanya, ‘Apakah di dalamnya masih ada air, dan apakah penduduk sekitarnya bercocok tanam dengan airnya itu?’ Kami menjawab, ‘Ya. Airnya banyak dan penduduk bercocok tanam dengan menggunakan airnya.’

 

Ia berkata, ‘Ceritakan kepadaku tentang Nabi yang ummi itu, apa yang telah dia lakukan?’ Mereka menjawab, ‘Nabi itu telah keluar dari Mekkah dan tinggal di Yatsrib (Madinah).’ Dia bertanya lagi, ‘Apakah orang Arab memeranginya?’ Kami menjawab, ‘Ya.’ Ia bertanya lagi, ‘Bagaimana ia memperlakukan mereka atau apa yang ia perbuat terhadap mereka?’ Kami pun menyampaikan bahwa nabi tersebut telah menundukkan orang-orang Arab yang mendatanginya dan mereka taat kepadanya.

 

Dia bertanya, ‘Apakah hal itu telah terjadi?’ Kami menjawab, ‘Ya.’ Ia berkata lagi, ‘Ingatlah bahwa sebaiknya mereka mematuhinya, dan aku memberitahukan kepada kalian tentang diriku, sesungguhnya aku adalah Al-Masih Ad-Dajjal, dan aku hampir diperbolehkan keluar (muncul). Aku akan muncul dan berjalan di muka bumi. Aku tidak membiarkan sebuah kampung kecuali aku menetap di dalamnya selama 40 malam, selain Mekkah dan Thaibah, karena keduanya diharamkan bagiku.

 

Setiap kali aku akan memasuki salah satunya, seorang malaikat akan menyambutku dengan pedang terhunus. Ia menghalangiku, dan pada tiap celah jalan-jalannya terdapat malaikat yang menjaganya.’”

 

Fathimah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sambil beliau menusukkan tongkatnya di mimbar, ‘Inilah Thaibah itu, inilah Thaibah itu, inilah Thaibah itu –-yakni Madinah—-. Ingatlah, bukankah aku telah menyampaikan haditsku ini? Para sahabat menjawab, ‘Ya.’

 

Bahwasanya kisah yang disampaikan Tamim telah mencengangkanku. Ceritanya persis dengan kisah yang aku ceritakan kepada kaian, juga tentang Madinah dan Mekkah. Ketahuilah, sesungguhnya Dajjal itu berada di Laut Syam atau Laut Yaman! Tidak, tetapi dari arah timur dan beliau mengisyaratkan tangannya ke arah timur.’

 

Aku hafal hadits ini dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

(HR. Muslim, no. 2942 dan Abu Daud, no. 4352)

Klik n Share http://www.30harihafalquran.com

Yayasan Quran Hamasah

Facebook Comments